Sunday, June 3, 2012

DIDI BUDIARDJO CULTURAL MANIFESTO

RUNWAY REPORT 
 DIDI BUDIARDJO Pièce de résistance


by Jo Reiner Widjaja 


Image Courtesy of Didi Budiardjo Personal Archive

As one of the world's most ethnic abundant country, it is only natural for Indonesian designers to use a part of their cultural heritage as their inspiration. Even so, not many of these designers have the ability to step out of their comfort zone and incorporate culturally rich fabrics and techniques in a more contemporary design and appeal, some designers tend to design from their knowledge limiting their appeal, using payet for kebaya, or dodot fabric for a basahan dress, exploring and applying what they know in a conservative way with a bit of a modern twist. Designing kebayas, traditional dresses, and formal wear, one cannot help but question; will their designs appeal to a wider audience? Will it appeal to an international scene? The answer sadly is probably not. But alas that is not the case with Didi Budiardjo, the acclaimed Indonesian designer who just held his 30th fashion show this week at Hotel Mulia, had showcase designs that undoubtably will appeal to a wider market. Showcasing his haute couture collection for the year 2012 Didi Budiardjo uses traditional fabrics at the utmost contemporary way; using dodot fabric, beskap, stagen, and wayang tatahan technique in hourglass shaped dresses, knee length dresses, laser cut designs, and extravagant coats. His designs surely were a cultural manifesto, pieces that weighs cultural heritage yet still bares hypnotic sense of allure to a wider scene, pièce de résistance for every woman. 

Sebagai salah satu negeri dengan kekayaan etnisitas terbesar di dunia, sudah menjadi sesuatu yang alamiah jikalau para perancang mode tanah air mempergunakan warisan budaya mereka sebagai sumber inspirasi. Walau pun demikian, tidak banyak dari designer Indonesia yang memiliki kemampuan untuk kelur dari zona kenyamanan yang mereka miliki untuk mencoba mengeksplorasi penggunaan bahan adat dan teknik adat yang ada dalam kemasan yang lebih kontemporer, sering kali desainer Indonesia ini masih mengaplikasi apa yang mereka ketahui dalam bentuk pakaian adat. Sebagai contoh beberapa desainer masih membatasi penggunaan payet untuk pakaian kebaya, atau kain dodot untuk pakaian basahan saja, desain yang ada bersifat konservatif dan formal tetapi diberikan seikit sentuhan moderinitas. Walau hal ini tidak dapat dipersalahkan karena setiap desainer memiliki hak atas subjektifitas mereka masing-masing, tetapi hal ini telah membatasi daya tarik karya mereka di pasar internasional. But alas itu bukanlah hal yang terjadi dengan Didi Budiardjo, desainer Indonesia yang ternama tersebut baru saja menggelar ajang unjuk mode ke-30 kalinya minggu ini di Hotel Mulia, dan dapat dikatakan bahwa koleksi yang ditunjukannya tanpa diragukan lagi dapat menarik perhatian dunia internasional. Dalam koleksi haute couture 2012 nya ini, Didi menampilkan penggunaan bahan tradisional dalam bentuk dan desain yang begitu kontemporer; menggunakan kain dodot, beskap, stagen, dan teknik tatahan wayang dalam gaun-gaun berbentuk jam pasir, gaun sepanjang dengkul, desain dengan laser cut, dan jubah-jubah extravagan. Desain yang ditampilkan sang maestro ini membawa sebuah pernyataan budaya sebuah cultural manifesto akan nilai budaya yang di embannya dengan saya tarik yang begitu hipnotik terhadap pangsa  pasar yang begitu luas. Menjadi pièce de résistance bagi setiap wanita, sebuah dedikasi Indonesian designer bagi tanah airnya. 







Image Courtesy of Agatha Dewi Sriwijaya Kusuma

Clair de Lune; which stands for moonlight was the theme of show, and just like water under the moonlight all the dresses were glistening and shimmering in a subtle and romantic way, an array of vibrant color were used in his collection, from  white, black, to tabasco red dresses and shimmering copper gold delights our eyes with wondrous aesthetic. In this particular collection Didi cooperated with Sagiyo, an Indonesian wayang artist where Didi used his tatahan wayang techniques in the show's finale look. The stage was decorated in a subtle yet glamorous manner a white wall with crown molding stood up as the backdrop of the stage, whilst crystal chandeliers were dazzling as the hightlight of the stage, it was a tres chic francis style decoration. What is interesting is that the wall opens up as soon as the show starts revealing a three steps staircase platform for which the models would then pose on.  

Clair de Lune; atau yang berarti terang bulan merupakan tema dari pertunjukan mode Didi Budiardjo yang diselenggarakan minggu lalu, dan sebagaimana terang bulan menyinari permukaan air, seluruh gaun yang ada berkilau dan bersinar dalam cahaya lembut yang begitu penuh dengan daya tarik romansa. Penggunaan berbagai warna yang vibran ditunjukan dalam koleksi Didi kali ini, dimulai dari warna hitam, putih, hingga merah menyala tabasco dan emas tembaga yang berkilauan, semua memanjakan mata kita dengan keindahan yang begitu mengagumkan. Dalam kesempatan kali ini Didi Budiardjo sang desainer berkerjasama dengan artis wayang dalam negeri Sagiyo, dimana Didi mempergunakan teknik tatahan wayang sebagai insipirasi dalam sebuah jubah yang kemudian menjadi penutup pertunjukan mode beliau. Panggung yang ada didekorasi dalam arahan yang sederhana tetapi tetap glamorous dengan menggunakan crown molding ala prancis dan penggunaan lampu-lampu kristal.  





Image Courtesy of Agatha Dewi Sriwijaya Kusuma


The show started with a range of white dresses and grey coats in all forms, from a strapless knee-length gown, to a mermaid flared gown with white beadings, a shoulder strap gown with beads fringes, to feathered grey coats, printed grey coats, and laser cut dresses, to sheer white coat on top of structural one shoulder dresses. All the looks were form fitting but edged up with a structural form on some part of the design giving the whole looks to be fashion forward, chic, and oozes sex appeal, not something for the conservative type of women. The looks were also accentuate by dramatic make ups of blue and silver eye shadows, pulled up hair dos, and tanned skin, all the models wore a strappy platform heels in an array of colors from black to white, and silver which are dramatized with glass tear drops headpieces. It was couture in all aspects! The dramatic headpieces, to the dramatic accessories and make ups, and an undeniably outstanding craftsmanship and application of different techniques in all the dresses, it was a statement for fine sartorialism of Didi Budiardjo, and we eager for more. One look that captured us in raptures was a grey coat made entirely out of feathers assembled in forms of leaves, it was a coat to die for. 


Acara dimulai dengan penampilan sejumlah gaun bernuansa putih dan penampilan beberapa jubah jake berwarna abu-abu dalam segala teknik dan bentuk, dari gaun strapless sebatas lutut, hingga mermaid dress dengan detail manik-manik putih, sebuah gaun sebatas bahu dengan permainan rumbaian manik-manik, hingga jubah bulu unggas dan jubah jaket dengan penggunaan prints. Seluruh tampilan begitu pas dengan tubuh, tetapi diberikan data tarik dengan pembentukan struktur di salah satu bagian desain gaun hal ini memberi kesan yang begitu fasion forward, chic, dan penuh daya tarik sensual. Seluruh penmapilan yang ada ditemani dengan make up yang dramatis, gaya rambut yang clean, dan kulit-kulit para peragawati yang tanned. Para model menggunakan sepatu berhak dengan platform, yang bergaya strappy dalam berbagai warna; silver, hitam, dan putih, selain itu pun arahan gaya yang dramatis terlihat dari penggunaan aksesoris rambut yang terbuat dari pecahan kaca. Semua gaun dan tampilan sangat kental dengan nuansa haute couture. Seluruh gaun yang ada menggunakan teknik yang berbeda dan menunjukan betapa ahlinya Didi Budiardjo dalam pengaplikasian teknik sartorial, dan hal tersebut membuat kami antusias akan seluruh koleksi yang dimilikinya.   
















Image Courtesy of Wollipop.com 

After that the show continued with a display of the use of batik Tirta Teja, even though the use of batik fabric were not seen, the inspiration was obvious. When asked Didi answered that he uses Tirta Teja's batik as an inspiration, where he created dresses from the pattern of the batik. All the girls were so dramatic and chic, in black, silver, and gold colored dresses with beadings, cat-eyed sunglasses and bun hair style. It was sexy and chic. As the show progressed the dresses shifted colors from shimmering black, silver and gold to deep blue and peacock feather embellished designs, the dresses was full of drama, suitable for chinese decedent women of Indonesia who dreams of glamour and drama, similar designs that once were displayed by Sally Koeswanto for her Dewi Fashion Knights 2011 debut. And after a display of those hypnotic blue and peacock inspired mermaid dresses, Didi showcased  a collection of red dresses. The dresses were so lively, with shimmering details and topped with sheer red capes, all the models also used a feather headpiece similar to the Givenchy's past concepts. Near the ending of the show, Didi displayed several wedding dresses where all were in great execution, tulle, france buttons, to romantic sheer flower details were used in making an absolutely dream like collection. But of course one cannot speak about dream whilst neglecting the finale look. The finale showed a beautiful glistening gold coat where the tatahan wayang technique and inspiration was used, the subtle detail and embellishment of  the coat was something out of a javanese fairy tale story. The coat was so special even Didi Budiardjo had especially named the coat Jiwa Jawa which means Java's Soul.    

Setelah pertunjukan berbagai gaun bernuansa putih tersebut, Didi pun menapilkan intrepertasi dirinya akan batik Tirta Teja, walau tidak terlihat penggunaan bahan batik dalam desainnya tetapi Didi mengakui bahwa ia melihat batik Tirta Teja sebagai inspirasi dalam membuat corak gaun yang didominasi oelh warna hitam, emas, dan perak tersebut. Seluruh peragawati yang ada begitu dramatis dan ala mode, dengan penggunaan kacamata hitam cat-eye dan tata rambut bentuk bun. Setelah parade gaun bernuansa hitam, emas, dan perak tersebut, Didi pun melanjutkan pertunjukan dengan penampilan gaun-gaun berwarna biru yang penuh hipnotis dengan tambahan detail bulu-bulu berdesain merak, cocok bagi wanita berketurunan tiong hua Indonesia yang menyukai desain yang glamour and full of drama. Setelah itu Didi pun menampilakan kumpulan gaun berwarna merah dan hitam dengan bahan halur dan flowy dengan penggunaan jubah sayap transparan dengan headpiece berupa bulu yang menyerupai konsep koleksi Givenchy beberapa waktu lalu. Selain itu Didi pun menunjukan beberapa koleksi gaun pengantin pada kesempatan ini, penggunaan tulle, detail bunga, dan kancing perancis memperindah gaun-gaun tersebut dalam arahan yang begitu romantis. Untuk tempilan akhirnya, Didi pun menampilakan sebuah jubah berwarna emas yang begitu indah sebagai contoh antara kolaborasinya dengan Sagiyo untuk aplikasi inspirasi tatahan wayang. Jubah tersebut penuh dengan daya tarik Jawa dengan segala detail dan desain ukiran khasnya hingga Didi menamakan jubah tersebut Jiwa Jawa.   














Image Courtesy of Wollipop.com






1 comment:

  1. loving your detailed runway review !

    thanks for stopping by at my blog :)

    GLISTERS AND BLISTERS

    ReplyDelete