Monday, July 16, 2012

SAPTO DJOJOKARTIKO'S DNA

RUNWAY REPORT 
 SAPTO DJOJOKARTIKO PRÊT-À-PORTER

by Jo Reiner Widjaja 


Image Courtesy of Tommy Adiputra

Well-known is a very interesting word, one might identify it as being established or famous for great things, or even being infamous from undesirable matters, even so one thing is for sure; that in order to be a well known designer, a person (or house) must have relatable appeal that both works well with its audience and an appeal which that certain designer has to be known for. Many designers these days are greats craftsman but unfortunately many of them lack this appeal and vision, they execute well  but lack that oomph of style, they do not have an identity; the DNA and it-factor of well-known style. One have to face this unbearable truth; that DNA is the main attraction of each label, the DNA of the design house is what sets them apart from other houses, and this is what enables people to recall each style in association towards a designer. These strands of DNA is filled with chromosomes of style that provokes one's mind when in thought of a certain style towards a label. For instance; Alexander McQueen is well known for his house's avant garde style and masculine aesthetics mixed with a definition of feminine romanist, whilst Valentino on the other hand is known for his great italian elegance that stood so mature and chic with great use of red fabrics in all shapes and sizes that forms A-line dresses, or even if you think of Biyan you will remember his payet and interpretation of great traditional Indonesian dresses design aesthetics in a contemporary way. Yes, being well-known for a certain strands of style DNA is important. Thus when one thinks about Sapto Djojokartiko one cannot deny but hope no less than great glamour pieces, in a contemporary state, and with its 'dark' appeal, a mixture of elegance but a little bit edged up with an un-contemporary use of clever materials such as; pins or hair-like faux fur, and his ready to wear collection just satisfies that lust one have for his signature DNA or even more. Yes, the collection was a tribute (you might say), to the complete past collections of his couture line for the past three years. This pret-a-porter collection was a statement collection, a debut for what will this special line would look like in the coming years, Sapto has successfully incorporate all of his past couture designs from the year 2009,2010, to 2011 to one ready to wear collection, a sheer skirts with leaves prints from 2009, an all black ensemble with mermaid bottom of drape effect made out of a sheer materials with black ribbon trimmings from 2011, or even the use of clever gold beading from recent designs. The show started with a dark room being lit by two screens uttering the name 'Sapto Djojokartiko' people such as Auguste Soesastro, Yoland Handoko, and many other fashion people have all been seated in such a graceful manner, the atmosphere were so severe that we were also filled with such anxiety to see the debut, and then it began.   

Ketenaran merupakan sesuatu hal yang sungguh menarik, ada beberapa individu yang menjadi tenar sebagai akibat dari hal-hal agung yang mereka lakukan, tetapi terdapat juga mereka yang menjadi 'terkenal' sebagai akibat dari hal-hal yang bersifat negatif. Walau pun demikian terdapat satu nilai yang dapat kami petik, seseorang dapat memperoleh keteneran jikalau mereka dikenal oleh suatu poin tertentu. Ya, demikian juga seorang desainer, acap kali banyak desainer yang merupakan seorang seniman dan artisan hebat tetapi tidak berhasil oleh sebab diri mereka dan style mereka yang tidak dikenal oleh pasar yang ditujunya, memang benar bahwa mereka adalah seorang seamstress  yang handal, tetapi tanpa visi dan identitas style tersebut, sangat sulit bagi mereka untuk dikenal. Katakanlah bahwa identitas ini merupakan DNA dari seorang desainer tersebut, dan gaya yang mereka kenali merupakan kromosom-kromoson yang menyusun bagaimana mereka dikenal dan disaksikan oleh pasarnya. Ya, seorang desainer memerlukan sebuah DNA yang dapat memiliki daya tarik dan indentitas yang kuat, layaknya mendiang Alexander McQueen yang tenar sebagai akibat dari desainnya yang avant garde, penuh dengan sisi maskulin yang berpadu dengan daya tarik romansa feminim, atau layaknya Valentino yang begitu tenar akibat signature gaun merah yang ia selalu berikan kepada para pecintanya; potongan-potongan elegan dengan daya tarik khas italia yang selalu diberika Valentino, atau juga Biyan yang selalu dikenal oleh akibat kepiawaiannya untuk membuat payen indah dalam desain kontemporer gaun tradisional. Maka itu ketika seseorang berfikir mengenai Sapto Djojokartiko identitas dari desain yang mereka akan referensikan merupakan; desain kontemporer dengan sisi glamour, yang penuh dengan daya tarik 'gelap' dan penggunaan material yang unik seperti penggunaan pin sebagai deatil dalam gaun-gaun atau pun penggunaan faux fur dalam desainnya. Ya, itulah yang kami nantikan dari Sapto Djojokartiko kejutan penggunaan bahan-bahan unik dalam desain glamour yang elegan tetapi dalam pandangan yang kontemporer, inilah identias beliau, dan kami pun terpuaskan olehnya. Dalam peluncuran lini siap pakainya, Sapto pun telah berhasil memuaskan segala harapan kami tersebut, memasukan desain-desain lalunya dalam houte couture Sapto telah berhasil membuat haute couture affordable.












Image Courtesy of Tommy Adiputra

The first look was a jumpsuit piece with a tribal print on it, the fabric were almost sheer and dropped with this loose and flowy effect, the collar was high on the model's neck yet the sleeves and the bottom's line hangs awkwardly above the wrists. It was a very wearable look. The model sported a straight hair yet it seems so natural, the make up were almost nude but accentuated by a gold shimmering color on her lips. It was fresh, wearable, weighs cultural vibe, and so Sapto Djojokartiko. A third of the show was opened by an black dominated pieces, from high shorts in black, to an embellished hemline jacket with a gold bundles, and demure light cream top in sheer materials which are embellished by that print we saw at Sapto's invitation. There were also low cut dresses with pencil skirt detailed with studded belts, to a shimmering grey metallic shirt that was oversized and accessorized with a gold necklace of a traditional damask-esque design, it oozes sexy, glam, and wearable, we also saw many pieces of well tailored blazers in grey shimmer color and even a dark abstract prints. Yes, the prints were also the highlight of the collection, a dark prints were seen on halter tops with gold embellishments on the neck, it were also seen on several jackets, and formfitting dresses. Then the color shifted to pieces in bright red, blazers, tailored pants, and tops in a unique red cum black pattern grace the runway, oversized top with a rose print on the front of the top makes all of these red pieces a very wearable look and youthful yet still refined and elegant. Then the collection shifted once again to an all black pieces, but this time the pieces were a little bit more mature and has that formal wear vibe. Pieces in fine materials accessorized with gold flowers and embellishments are so hypnotic, skirts from the 2009 design of sheer leaves were seen, also the gold damask romanian pattern were seen on several tops and dresses, it then began to strikes us, this is his identity, his tribute pieces and his allure in bringing haute couture to a wearable definition. All of the pieces were so strong, glamorous, and wearable. Sapto has given us a little bit of himself on this pieces, all the models wore either a uniformed black or gold strappy platform stilettos. You are able to see the beautiful collection from the photos below courtesy of Tommy TMPL of www.yohanesmangitung.com

Look pertama yang ditampilkan merupakan sebuah jumpsuit dengan warna dominasi hitam yang di detailkan dengan pola tribal, bahan yang dipergunakan merupakan bahan tipis yang menyerupai bahan sheer dengan potongan leher yang cukup tinggi dan kedua lengan dan panjang kaki yang bergnatung di atas pergelangan kaki dan lengan, penampilan tersebut terlihat begitu sederhana, meskipun demikian hal ini menampilkan apa yang ingin Sapto tunjukan; koleksi yang sangat mudah dipakai dengan sisi elegan dan tetap terasa dewasa. Untuk sepertiga pertunjukan mode tersebut Sapto menampilakan berbagai pakaian dalam dominasi warna yang gelap; hitam, abu-abu yang berkilau, dan warna abu bercampur dengan hitam. Seluruh model yang ada pun mengenakan tata rias yang sangat sederhana tetapi memiliki daya tarik konsep yang kuat, tata rias alami dengan warna emas pada bibir mereka dan rambut yang diluruskan, dalam tata-an yang alami. Seluruh tata rias, dan aksesoris terlihat jelas ada untuk menyorotkan seluruh pakaian yang ada, celana pendek dengan potongan line yang tinggi dipadukan dengan sebuah atasan berwaran krem muda berbahan transparan dengan detail pola (serupa dengan yang terdapat pada undangan Sapto) dipadukan dengan sebuh jaket hitam yang oversized di detail-kan bandul-bandul berwarna keemasan, terdapat pula gaun-daun dalam potongan v rendah ber-rokkan pensil yang membentuk tubuh dengan detail stud pada bagian pinggangnya, selain itu terdapat juga kemeja berbahan indah berwarna abu-abu berkemilauan yang berdesain oversized diaksesoriskan dengan kalung beralur dedauan damask berwarna emas, blazer, jacket, dan celana tailored terlihat jelas dalam warna gelap. Hal yang menarik untuk dilihat merupakan beberapa prints bersifat abstrak dengan perpaduan warna hitam, putih, dengan sedikit kelabuan, pola prints tersebut digunakan dalam berbagai macam pakaian dalam potongan gaun halter, jaket, dan gaun berbahan dasar sutra. Seiring dengan berjalannya pagelaran kemudian warna skema koleksi pun berganti menjadi warna merah, print yang didominasikan warna merah dengan sedikit corak berwarna hitam terlihat begitu segar dan menarik. Blazer, kemeja, dan celana bahan terlihat begitu muda, indah, dan wearable. Dapat terlihat bagaiman Sapto memberikan sebuah koleksi yang dapat dengan dikenakan oleh berbagai kalangan baik mereka yang muda mau pun yang sudah berumur, selama seluruh pieces dapat dipadukan secara selaras. Setelah koleksi berwarna merah tersebut, maka keluarlah beberapa potong penampilan dalam warna-warna gelap kembali, perbedaan yang terlihat ialah bagaimana dalam pertunjukan penampilan pakaian berwarna gelap kali ini, pakaian yang ada merupakan pakaian yang bersifat lebuh dewasa dengan bahan yang lebih terlihat formal. Hal yang menarik merupakan detail yang terlihat dalam pieces ini, bahan sheer dengan detail dedaunan dari koleksi haute couture terlihat dalam beberapa potong rok, selian itu beberapa potong atasan terlihat menggunakan inspirasi damask dedaunan berwarna emas yang terdapat pada koleksi tahun 2011 Sapto Djojokartiko. Truly, koleksi ini seperti sebuah penyataan identitas dari Sapto, sang maestro seakan membuat penyataan bagaimana DNA lini nya harus dikenal melalui penggunaan desain-desain couturenya dalam lini siap pakai ini. Sebuah penyataan identitas.


























Image Courtesy of www.yohanesmangitung.com
Photographer : Tommy TMPL

3 comments:

  1. You are such a good good writer. I love your writings so much!!

    ReplyDelete
  2. waiting for your next post...
    when will you write again?

    http://djursh.blogspot.com/

    ReplyDelete