Sunday, October 26, 2014

SAPTO'S IVORY TOWER

RUNWAY REPORT 
 SAPTO DJOJOKARTIKO SPRING SUMMER 2015 

By Jo Reiner Widjaja & Satrio Ramadhan



All Images Taken By Satrio Ramadhan for No.1707

As the world grows more seamless more than ever, the fashion world is also defined by this irreverent truth; taste have become global. Our understanding of what beauty is, and what style is, have reach to a point where it is simply beautiful  to feel attraction to the same singular flair. Sapto Djojokartiko, an Indonesian designer who has seen a rise in the past years aligning himself with prominence as great as Biyan or Sebastian Gunawan, had just showcased a collection he cleverly name prêt-à-couture at Harper's Bazaar Fashion Festival. A collection of demi couture pieces, of which has the practicality of ready-to-wear but has the craftsmanship approach of those in haute couture. The term may seem new to Indonesians, but seeing the rise of french maison or italian atelier such as; Raf Simons at Christian Dior and Giambattista Valli who created a more approachable couture collection in their houses, it comes to no surprise that an Indonesian would eventually take the same approach. Put Sapto amongst Indonesian houses and you will see him differing himself, secluding and eyeing the future, as he sits in his Ivory tower glancing through Indonesian society; pushing new propositions.   

Liminalitas, mendikte perahlian dunia yang lebih menyatu. Tidak hanya di dalam aspek informasi dan teknologi, bahkan dunia mode merasakan hal yang sama; gaya dan selera dunia menjadi serupa. Pengertian mengenai apakah keindahan, dan apakah mode telah mencapai titik dimana kita semua memiliki kecenderungan atraksi terhadap hal yang sama. Sapto Djojokartiko, seorang desainer yang tengah melesat dalam peta fesyen Indonesia baru saja mengeluarkan sebuah koleksi pada ajang Harper's Bazaar Fashion Festival yang ia namai dengan pret-a-couture. Koleksi musim panas dan semi berisikan demi couture yang memiliki praktikalitas pakaian siap pakai tetapi dengan konstruksi couture. Term 'demi couture' mungkin terdengar asing, tetapi melihat dengan bertambah banyaknya rumah mode Perancis dan Italia seperti Christian Dior atau Giambattista Valli yang mendefinisi ulang koleksi couture mereka dengan pendekatan yang praktis, semustinya hal ini tidak mengagetkan bahwa akan ada desainer Indonesia yang mengadaptasi pendekatan serupa. Ambil Sapto Sjojokartiko dan letakan ia bersama visi yang ia miliki. Lihatlah bagaimana ia mendeferensiasikan dirinya, menseklusikan imajinya dan melihat kepada masa depan. Seiring ia duduk di tahta menara gading yang ia miliki, ia menbedakan diri dari para pemain lainnya di Indonesia dengan menawarkan proposisi baru bagi industri mode tanah air. 




The collection was presented in an all white setting, with an orchestra of two cellos playing in the background. The models in their demure ethereal beauty pranced around the marble-like ruins, showcasing flowing dresses and beautiful pale ensembles. The presentation was full of awe. Ivory, bone, shades of grey, and off-white were the major colours of the evening, schemer over french lace, organza, and linen in pieces that are symmetrical and flowing. Not only dresses, but the collection also consist of jackets, and embroidered pants. The inspiration comes from Indonesian Penara, the technique which originated from the Java Island depicts of precision and symmetrically, which Sapto did so well in translating to a more global appeal. Classic, elegant, stripped from gaudy glamour the collection challenges the notion of Indonesian craving for kitschy glimmer. An approach we approve.       

Di presentasikan pada setting serba putih, koleksi ini ditampilkan dengan alunan orkestra berisikan dua cello. Para peragawati dengan dandanan make-up yang minim dan natural, berjalan mengelilingi runway yang dihiasi dengan reruntuhan patung Yunani memperlihatkan koleksi yang didominasi dengan warna ivory, bone, abu-abu, dan off-white. Gaun dan susunan pakaian yang ada memiliki silhuet yang simetris dan terkesan effortless dengan bahan yang ringan. Menggunakan organza, renda Perancis, dan linen, Sapto mengambil inspirasi dari Penara Jawa dan menggunakan presisi yang ada untuk menyulap bahan-bahan ini menjadi gaun, jaket, dan celanda berembrodir. Klasik, elegan, dan tidak menampilkan sisi yang terlalu glamour, Sapto memberikan pendekatan yang menantang presepsi pasar yang selalu menginginkan kemeriahan. Sebuah pendekatan yang kami setujui. 









No comments:

Post a Comment